Tiga Dekade Pembiaran, Warga Gedongsari Akhirnya Bersuara: Bruk Jalan Hancur Telan Puluhan Korban

GARDA BLORA NEWS, BLORA — Pemandangan mengenaskan terlihat di wilayah Dukuh Badong, Desa Gedongsari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Bruk atau pembatas jalan di kawasan itu hancur dan nyaris hilang, meninggalkan jurang menganga di tepi jalan utama yang ramai dilalui warga.

Tokoh masyarakat setempat, Moch Subeki atau yang akrab disapa Mbah Beki, dengan nada geram menunjukkan kondisi memprihatinkan tersebut.

Di dekat perempatan Pasar Badong, jalan utama yang seharusnya aman justru tampak berbahaya, tidak ada pembatas, tidak ada trotoar, hanya selokan terbuka siap menelan korban.

“Ini sudah lebih dari 30 tahun. Pemerintah diam saja, tidak ada yang membetulkan,” ujar Mbah Beki, Rabu (8/10/2025).

Selama bertahun-tahun, Mbah Beki mengaku terpaksa menambal dan memperbaiki seadanya dengan biaya pribadi, karena tak tahan melihat kondisi jalan yang kian membahayakan warga.

“Yang membetulkan saya sendiri, pakai uang pribadi. Karena saya peduli lingkungan, bukan karena kaya, tapi karena kasihan sama warga,” tegasnya.

Jalan di sekitar Pasar Badong merupakan akses utama warga desa. Namun kini, tanpa adanya pembatas (bruk) yang kokoh, jalan berubah menjadi ancaman.

Banyak pengendara nyaris terperosok ke selokan, terutama saat malam atau hujan deras.

“Ini bukan cuma rusak, tapi sudah membahayakan nyawa. Hampir tiap minggu ada yang hampir jatuh. Sudah puluhan warga jadi korban, ada juga yang sampai masuk ke kali,” tambah Beki dengan nada tinggi.

Kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun tanpa penanganan serius dari pihak pemerintah, membuat warga merasa diabaikan dan tidak didengar.

Mbah Beki bersama warga Badong kini menuntut langkah cepat dari pemerintah daerah.

Mereka meminta perbaikan total bahu jalan dan pembangunan ulang bruk pembatas yang kokoh, agar keselamatan warga tidak terus terancam.

“Tolong pemerintah jangan tutup mata. Bruk pembatas ini harus segera dibangun ulang, sebelum ada korban jiwa,” desaknya tajam.

Selama sekitar 30 tahun lebih, warga hanya bisa menatap bruk yang runtuh dan janji yang tak pernah ditepati.

Kini, suara rakyat kecil dari Badong kembali menggema, menuntut agar keselamatan tidak lagi dikorbankan oleh kelalaian dan pembiaran.

(Rival)

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!