GARDA BLORA NEWS, BATAM – Isu keberadaan kartel dan jaringan mafia beras impor di Batam kembali mencuat ke permukaan. Sorotan publik semakin kuat setelah Presiden Prabowo menegaskan operasi pemberantasan mafia pangan secara nasional, Kamis (20/11/2025).
Namun di lapangan, ironi justru menganga: suara pemerintah pusat keras, tetapi pergerakan penegakan hukum di Batam nyaris tak terdengar.
Sudah bertahun-tahun dugaan penyelundupan beras impor beredar dari pelabuhan hingga pasar ritel.
Tetapi sampai hari ini meski tekanan publik menguat tidak satu pun aktor dikukuhkan sebagai tersangka. Tidak satu gudang pun ditutup. Tidak satu operasi resmi diumumkan.
Hasilnya, isu semakin besar… sementara pelakunya tetap tak tersentuh.
Jalur Masuk Diduga dari Malaysia: Arus yang Tak Pernah Padam
Sejumlah temuan lapangan mengarah pada pintu masuk dari beberapa pelabuhan di Malaysia, terutama Batu Pahat, Johor Bahru, dan titik transit kecil yang selama ini dikenal rawan.
Informasi dari sumber internal menunjukkan bahwa ratusan kontainer berpotensi melintas setiap bulan menuju Batam.
Yang membuat publik curiga, kuota impor resmi BP Batam diduga dijadikan “kedok legal”, sementara volume beras yang masuk jauh melampaui izin.
Hingga berita ini ditulis, BP Batam belum mengeluarkan penjelasan komprehensif atas dugaan pemanfaatan kuota impornya sebagai tameng aktivitas ilegal.
Bisnis Bernilai Besar: Beras Murahan Disulap Jadi Produk Premium
Rantai bisnisnya diperkirakan menghasilkan keuntungan yang tidak wajar. Beras dari Thailand dan Myanmar dibeli dengan harga sekitar Rp5.100/kg, lalu setelah ongkos logistik serta biaya tidak resmi, biaya mendarat naik ke Rp6.500–Rp7.500/kg.
Masuk ke Batam, beras ini kemudian:
– Dioplos dengan beras lokal kelas rendah
– Dicampur ulang dalam jumlah besar
– Dikemas ulang dalam karung premium
– Dijual dua kali lipat di kisaran Rp14.000–Rp15.000/kg
Perputaran ini diperkirakan menghasilkan Rp60–75 miliar per bulan, angka yang menunjukkan keberadaan jaringan kuat yang mengatur suplai, distribusi, hingga pemasaran.
Inisial-Inisial yang Beredar, tetapi Tak Pernah Tersentuh
Di kalangan pedagang dan pelaku logistik, beberapa inisial sudah lama menjadi pembicaraan:
B – dikenal sebagai importir besar
A – penyokong jaringan pemasok
BJ – pengendali distribusi tertentu
Namun nama-nama ini hanya beredar sebagai rumor. Tidak pernah muncul panggilan resmi, penyidikan, atau konferensi pers yang memastikan proses hukum berjalan.
Beberapa lokasi yang kerap disebut media lokal sebagai titik aktivitas, seperti:
– Gudang di Jalan Bawal, Batu Merah
– Kawasan Pantai Stres, Batu Ampar
– Area repacking dan distribusi
Tetap beroperasi tanpa ada tanda-tanda penyegelan atau investigasi terbuka.
Dugaan ‘Payung Oknum’: Mengapa Operasi Mereka Begitu Percaya Diri?
Seorang mantan operator jaringan yang ditemui secara terpisah menyebut, keberanian aktor-aktor ini didasari oleh adanya payung perlindungan dari oknum tertentu.
“Perintah presiden sangat jelas, tapi di sini mereka tidak berhenti. Mereka merasa aman. Sampai hari ini belum ada yang disentuh,” ujarnya.
Jika kesaksian ini akurat, maka masalah mafia beras di Batam bukan sekadar soal penyelundupan, tetapi mencakup struktur perlindungan yang sistematis, yang memungkinkan bisnis berjalan mulus meski tekanan publik meningkat.
Penegakan Hukum Ditagih: Publik Menunggu Bukti, Bukan Janji
Pasca-instruksi Presiden, masyarakat Batam kini menunggu langkah nyata aparat:
– Apakah Kejagung dan Polri akan membuka penyelidikan khusus?
– Apakah seluruh jalur logistik darat, laut, hingga gudang akan diperiksa?
– Apakah aktor-aktor besar akan diumumkan?
– Apakah lokasi-lokasi yang disebut publik akhirnya akan ditindak?
Sebab selama bertahun-tahun, pola peredaran beras di Batam menunjukkan kejanggalan serius: harga yang tidak wajar, volume yang tidak sesuai mekanisme impor resmi, dan jaringan distribusi yang terlalu rapi untuk disebut aktivitas biasa.
Jika pemerintah benar ingin memutus mata rantai mafia pangan, Batam adalah salah satu titik krusial yang harus dibersihkan bukan lagi dibiarkan dalam kabut kegelapan.

