GARDA BLORA NEWS, BLORA – Kekhawatiran publik mengenai maraknya kekerasan dan pencabulan di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, semakin menguat.

Fenomena ini digambarkan sebagai “gunung es” kasus yang muncul ke permukaan diyakini hanya sebagian kecil dari jumlah yang sebenarnya terjadi.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Ngadipurwo, Blora, M Ahmad Faishol Nadjib atau Gus Faishol, menyebut kondisi tersebut sudah berada dalam tahap mengkhawatirkan.

“Kasus semacam ini bukan lagi sekadar dugaan. Banyak korban memilih diam, banyak kejadian sengaja ditutup. Yang terlihat hanya sedikit,” tegasnya saat ditemui awak media, Minggu (30/11/2025).

Menurutnya, pesantren harus menjadi ruang aman, bukan malah menjadi tempat yang rawan terhadap kekerasan seksual akibat minimnya edukasi dan adanya relasi kuasa antara guru santri atau senior junior.

Edukasi Seksual Islami: Solusi Pencegahan Sejak Dini

Sebagai langkah nyata, Ponpes Al-Hikmah menghadirkan Pelatihan Tarbiyah Jinsiyah bagi ratusan santri putri. Pelatihan ini merupakan kerja sama dengan komunitas Nawaning Nusantara, menghadirkan tiga narasumber muda:

  • Ning Amiroh Alauddin (Bandungsari)
  • Ning Shahnaz Nabilla (Lasem)
  • Ning Syafiqoh Zuhda (Sulang)

Materi yang diberikan mencakup pemahaman kesehatan reproduksi, batasan fisik, perlindungan diri, hingga cara mengenali tanda-tanda pelecehan—baik verbal, nonverbal, maupun melalui media digital.

“Isu seperti ini tidak boleh lagi dianggap tabu. Kesadaran dan keterbukaan adalah bentuk perlindungan,” ujar Gus Faishol.

Tidak hanya santri, jajaran pengasuh juga mendapatkan pembekalan khusus mengenai penanganan kasus kekerasan seksual yang berperspektif korban agar tidak memunculkan trauma lanjutan.

Tiga Fokus Perlindungan Diri yang Ditanamkan kepada Santri

  1. Mengerti dan Menjaga Batas Tubuh
    Santri diajak memahami hak penuh atas tubuhnya dan berani menolak sentuhan yang tidak pantas.
  2. Keberanian Berbicara dan Melapor
    Pesantren menjamin adanya ruang aman bagi korban atau saksi untuk berani melaporkan kejadian tanpa takut stigma.
  3. Literasi Digital dan Pengendalian Emosi
    Upaya pencegahan terhadap grooming dan kekerasan berbasis online, sekaligus pemahaman nilai pergaulan Islami.

Komitmen Hadirkan Pesantren yang Aman dan Berkeadaban

Suasana pelatihan berlangsung interaktif dengan studi kasus dan diskusi terbuka untuk menguatkan keberanian santri dalam menyampaikan pengalaman maupun keresahan mereka.

“Kami tidak ingin ada lagi pembiaran atau penyembunyian. Pencegahan dimulai dari edukasi, keberanian melapor, dan sistem pengawasan yang kuat,” tegas Gus Faishol.

Ia berharap gerakan edukasi ini menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lain agar keberanian menolak kekerasan semakin kuat, sehingga tidak ada santri yang menjadi korban dalam diam.

“Pesantren harus menjadi tempat yang paling aman bagi tumbuh kembang anak, bukan sebaliknya,” pungkasnya.

(Rival)

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!