GARDA BLORA NEWS, BLORA – Di tengah dinamika sosial dan derasnya arus informasi, hadir sebuah komunitas kecil yang memilih nama sarat makna: “Team Orong-Orong”. Terdiri dari tiga wartawan independen, antara lain Gunawan DH (Blok7.id), Lilik Yuliantoro (Tuturpedia.com), dan Rival (Gardabloranews.com), kelompok ini dikenal konsisten menyuarakan kritik serta isu-isu publik secara terbuka.
Pemilihan nama “Orong-Orong” bukan tanpa filosofi. Dalam khazanah legenda rakyat Jawa, kisah tentang orong-orong yaitu serangga tanah, dikaitkan dengan ajaran luhur Sunan Kalijaga.

Sang wali dikenal menyampaikan nilai-nilai tasawuf melalui simbol dan pendekatan budaya yang membumi.
Legenda tersebut menceritakan tentang kepala dan tubuh orong-orong yang terpisah, lalu disambungkan kembali oleh Sunan Kalijaga menggunakan tatal kayu jati. Peristiwa itu dimaknai bukan sekadar kisah mukjizat, melainkan simbol mendalam tentang penyatuan ilmu dan hati.
*Filosofi Ilmu dan Hati*
Dalam penafsiran simboliknya, kepala orong-orong melambangkan ilmu pengetahuan atau rasio. Sementara tubuhnya mewakili hati, rasa, dan kebijaksanaan. Pesan moralnya jelas, yaitu manusia tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual semata.
Ilmu tanpa hati berpotensi melahirkan kesombongan. Sebaliknya, hati tanpa ilmu dapat menjerumuskan pada kekosongan arah. Keseimbangan antara keduanya menjadi kunci lahirnya kebijaksanaan sejati, sebuah ajaran tasawuf yang kerap ditekankan Sunan Kalijaga dalam dakwahnya.
Filosofi inilah yang seolah menjadi cermin bagi Tiem Orong-Orong. Dalam menjalankan profesi jurnalistik, ketiganya tak hanya bertumpu pada data dan fakta (ilmu), tetapi juga pada kepekaan sosial dan keberpihakan pada kepentingan publik (hati).
*Makna Tatal Kayu Jati*
Bagian yang menyatukan kepala dan tubuh orong-orong adalah tatal kayu jati, serpihan kayu yang kerap dikaitkan dengan kisah pembangunan Masjid Agung Demak. Dalam tradisi tutur masyarakat Jawa, tatal kayu jati melambangkan kesederhanaan dan ketulusan.
Meski hanya serpihan kecil, ia mampu menjadi penghubung dua bagian yang terpisah. Filosofinya, hal kecil yang dilakukan dengan niat tulus dapat menghadirkan kemaslahatan besar.
Nilai ini relevan dengan kerja-kerja jurnalistik independen yang mungkin tampak sederhana, namun memiliki dampak luas dalam membangun kesadaran publik.
*Legenda yang Terus Hidup*
Mitos yang berkembang menyebutkan bahwa jika kepala dan tubuh orong-orong dipisahkan, akan ditemukan serpihan kayu di lehernya sebagai simbol sambungan tersebut.
Terlepas dari kebenaran ilmiahnya, legenda ini tetap hidup sebagai media dakwah kultural yang kaya makna.
Bagi masyarakat Jawa, kisah ini menjadi pengingat bahwa kehidupan harus dijalani dengan keseimbangan antara rasio dan rasa.
Begitu pula dalam dunia jurnalistik, ketajaman analisis perlu disertai kejernihan nurani.
“Tiem Orong-Orong” pun menjadi simbol kecil dari filosofi besar itu, yakni menyatukan keberanian menyuarakan kebenaran dengan kebijaksanaan dalam menyampaikannya.
Dalam perpaduan ilmu dan hati, lahir kontrol sosial yang berintegritas dan berpihak pada masyarakat.

