Pentawira Mantapkan Investasi di Blora, Rancang Industri Padat Karya Libatkan Warga Lokal

GARDA BLORA NEWS, BLORA – Upaya Pemerintah Kabupaten Blora dalam menarik minat investor perlahan mulai menampakkan hasil.

Setelah lama berupaya membangun citra daerah ramah investasi, kini sejumlah perusahaan besar mulai melirik Blora sebagai lahan ekspansi industri.

Salah satunya adalah PT Penta Wira Agra Sakti (PT Pentawira), perusahaan pengolahan batu kapur yang tengah menuntaskan proses perizinan pembangunan pabrik di wilayah setempat.

Tak berhenti di situ, PT Pentawira juga telah menyiapkan langkah besar berikutnya: membangun pabrik karung di lokasi yang sama pada tahun 2028.

“Setelah pabrik kapur masuk tahap pra-produksi dan semua fasilitas rampung, kami akan lanjutkan dengan pembangunan pabrik karung di area tersebut,” ungkap Raman, perwakilan perusahaan yang dipercaya mengurus perizinan, Senin (13/10/2025).

Raman menjelaskan, rencana pendirian pabrik karung itu tidak hanya berorientasi pada industri, tetapi juga berpotensi memberdayakan masyarakat lokal.

Nantinya, bahan baku akan disediakan oleh perusahaan, sementara warga, terutama ibu rumah tangga, bisa ikut memproduksi karung dari rumah masing-masing.

“Konsepnya padat karya. Jadi masyarakat bisa ikut terlibat langsung, terutama ibu-ibu yang menjahit karung dari rumah. Ini akan membuka banyak peluang kerja,” tambahnya.

Tak hanya PT Pentawira, kabar baik lain datang dari PT Kasogi, perusahaan sepatu nasional yang mulai menjajaki peluang investasi di Blora.

Industri sepatu dikenal padat karya dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

“PT Kasogi ini potensinya besar. Mereka sedang survei lokasi dan menargetkan penyerapan tenaga kerja hingga 5.000 sampai 6.000 orang,” kata Raman.

Rencana lokasi pabrik sepatu tersebut diarahkan ke kawasan Sambong, berdekatan dengan Jembatan Timbang, yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Peruntukan Industri (KPI).

Sementara itu, pabrik kapur Pentawira akan berdiri di Kecamatan Jiken. Pemerataan lokasi industri ini disebut sebagai strategi pemerataan ekonomi di berbagai kecamatan.

“Jiken ada Pentawira, Sambong nanti sepatu, Ngawen mungkin akan menyusul dengan industri lain, Kunduran ada gula. Jadi pemerataan,” imbuhnya.

Masih Ada Kendala, tapi Iklim Investasi Mulai Kondusif

Meski gairah investasi meningkat, Rahman mengakui masih ada tantangan di lapangan. Salah satunya adalah urusan regulasi yang berkaitan dengan kewenangan dokumen lingkungan.

Namun, ia menilai secara umum proses perizinan di Blora sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Pemerintah daerah dinilai semakin terbuka dan responsif terhadap investor.

“Masih ada hal-hal teknis yang perlu disesuaikan, terutama terkait lingkungan. Tapi secara umum, Blora ini tempat yang enak untuk investasi,” katanya.

Isu lain yang sempat mengemuka adalah kenaikan harga tanah secara sepihak dan gangguan dari oknum preman. Namun menurut Rahman, situasinya masih terkendali.

“Masih bisa dikondisikan. Pemerintah daerah juga tanggap jika ada hal-hal di luar kendali investor,” ujarnya.

Dengan komitmen Pemkab Blora untuk mempercepat perizinan, memberikan insentif, serta memastikan keamanan dan kepastian hukum, Blora kini mulai menatap babak baru menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan industri di wilayah timur Jawa Tengah.

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!