Tanah Ambles di Buluroto Kian Dalam, Rekahan Mendekati Permukiman Warga

GARDA BLORA NEWS, BLORA – Pergerakan tanah di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Kedalaman amblesan dilaporkan mencapai sekitar dua meter dari permukaan awal, sementara retakan baru terus merambat ke arah rumah warga.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, menyampaikan bahwa upaya penanganan sudah berjalan dan progresnya mendekati 90 persen. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemasangan talud bronjong di sepanjang tepi Sungai Lusi.

“Penanganan dengan pemasangan bronjong di pinggir sungai sudah berjalan. Hampir 90 persen selesai,” ujar Surat, Rabu (18/02/2026).

Berdasarkan kajian sementara, persoalan utama diperkirakan berkaitan dengan sistem drainase lingkungan yang belum terhubung langsung ke sungai. Akibatnya, air dari kawasan permukiman meresap ke dalam tanah dan menyebabkan kondisi tanah menjadi jenuh.

“Air tidak langsung mengalir ke sungai, melainkan merembes dan menyebar. Kondisi itu membuat tanah jenuh dan memicu amblesan,” jelasnya.

DPUPR Blora bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana masih terus melakukan evaluasi. Namun, Surat mengakui belum ada kajian teknis mendalam karena keterbatasan anggaran khusus. Oleh sebab itu, belum dapat dipastikan kapan pergerakan tanah tersebut akan benar-benar berhenti.

“Kami masih mengkaji bersama BBWS berdasarkan kondisi yang ada dan melakukan penanganan sesuai kemampuan yang tersedia,” katanya.

Terkait kemungkinan pengajuan anggaran Biaya Tidak Terduga (BTT), pihaknya belum mengusulkan secara resmi. Ia menyarankan agar hal tersebut dikonfirmasi langsung kepada BPPKAD atau Sekretaris Daerah Kabupaten Blora.

Berdasarkan pantauan di lapangan, retakan tanah memanjang melintasi sembilan rumah warga dan menyebabkan kerusakan pada tiga di antaranya, yakni milik Sriyono, Peny, dan Sayid.

Sriyono mengaku telah memindahkan rumahnya sejauh tiga meter pada Desember 2025 ke lokasi yang dianggap lebih aman. Ia juga menimbun tanah menggunakan empat rit tanah urug untuk mempertahankan bangunannya. Namun, tanah tetap bergerak.

“Masih terus bergerak. Saya sampai harus mendongkrak rumah dua hari sekali sejak Oktober lalu. Desember kemarin baru digeser tiga meter,” ungkapnya.

Ia menambahkan, selain bantuan tanah urug, dirinya menerima bantuan sembako serta pembangunan kamar mandi yang terealisasi pada Januari 2026, meski pengajuan sudah dilakukan sejak 2024.

Hal serupa dialami Peny. Ia menyebut amblesan paling parah terjadi pada awal Februari 2026. Untuk mengantisipasi pergerakan tanah, ia membatasi area urug dengan karung berisi tanah. Hingga kini, ia telah menggunakan enam rit tanah urug dan berencana menambah lagi.

“Kedalamannya sudah sekitar dua meter. Untung kamar mandi masih bisa dipakai,” katanya.

Warga lainnya, Masdukin, juga merasa khawatir karena jarak rekahan kini hanya sekitar dua meter dari rumahnya. Ia berinisiatif memasang turap bambu sebagai langkah darurat setelah terjadi longsoran sedalam tiga meter di belakang rumahnya.

“Kalau hujan deras, bisa turun sampai 10 sentimeter dalam sehari. Dulu jaraknya empat meter, sekarang tinggal dua meter,” tuturnya. Ia berharap pemerintah segera membenahi drainase agar air bisa langsung mengalir ke sungai dan menghentikan amblesan.

Sementara itu, Takin mengaku semakin cemas setiap hujan turun. Rumahnya kini hanya berjarak setengah meter dari bibir rekahan.

“Sekarang tinggal setengah meter. Kami sekeluarga was-was, apalagi rumahnya konstruksi tembok,” ujarnya.

Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah teknis lanjutan untuk menghentikan pergerakan tanah yang terus mengancam permukiman mereka.

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!