GARDA BLORA NEWS, BLORA — Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) kembali menjadi momentum refleksi atas kondisi keselamatan kerja di Indonesia, Jumat (1/5/2026).
Dalam pernyataan terbukanya, Rival Alfian Esa Saputra menyoroti masih lemahnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), khususnya pada proyek-proyek yang bersumber dari anggaran negara.
Ia menegaskan bahwa proyek yang dibiayai dari pajak rakyat seharusnya menjadi contoh dalam menjamin keselamatan pekerja.
Namun, realita di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya masih ditemukan kelalaian yang berpotensi membahayakan nyawa buruh.
“Jangan sampai proyek yang dibiayai uang rakyat justru mengorbankan rakyat itu sendiri. K3 tidak boleh berhenti di atas kertas, tapi harus benar-benar diterapkan di lapangan,” tegas Rival.
Menurutnya, banyak standar operasional prosedur (SOP) hanya dijadikan formalitas administratif. Perlengkapan keselamatan memang tersedia, tetapi tidak diawasi penggunaannya, bahkan ada yang tidak layak pakai.
Rival juga menyoroti budaya kerja yang masih mengutamakan target produksi dibanding keselamatan.
Dalam kondisi tertentu, buruh didorong untuk bekerja cepat tanpa perlindungan maksimal, sehingga risiko kecelakaan meningkat.
“Kalau keselamatan dikalahkan oleh target, itu bukan efisiensi itu kelalaian,” ujarnya.
Selain itu, ia mempertanyakan keseriusan pihak pelaksana proyek dan perusahaan dalam menjalankan K3 secara konsisten.
Tidak sedikit yang dinilai hanya patuh saat ada inspeksi, namun mengabaikan keselamatan dalam praktik sehari-hari.
Pengawasan dari pemerintah pun tak luput dari kritik. Lemahnya kontrol serta minimnya penindakan tegas dinilai menjadi salah satu penyebab pelanggaran K3 terus berulang.
“Kalau aturan sudah jelas, kenapa kecelakaan kerja masih sering terjadi? Ini menunjukkan ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa dampak dari kelalaian K3 bukan sekadar angka, melainkan menyangkut nyawa dan masa depan para pekerja serta keluarga mereka.
“Keselamatan kerja bukan soal aturan, tapi soal nyawa. Jika masih ada buruh yang celaka karena kelalaian, maka itu bukan musibah itu kegagalan,” pungkasnya.

