GARDA BLORA NEWS, BLORA — Ribuan petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menggelar aksi damai bertajuk “Nagih Janji Bulog” di depan rumah dinas Bupati Blora, Kamis (2/4/2026). Aksi tersebut diwarnai dengan sindiran keras kepada Perum Bulog yang dinilai ingkar janji.

Dalam orasinya, salah satu orator yang berdiri di atas kendaraan pengangkut tebu jenis John Deere memancing respons massa. “Bulog!” teriaknya, yang langsung disambut ribuan peserta aksi dengan seruan, “Pembohong!”
Aksi besar ini dipicu kekecewaan petani terhadap janji Perum Bulog terkait operasional kembali Pabrik Gula GMM pada tahun 2026. Sebelumnya, pabrik tersebut tidak beroperasi pada 2025 akibat kerusakan mesin.
Ketua APTRI Blora, Sunoto, menegaskan bahwa aksi ini merupakan upaya terakhir agar aspirasi petani sampai ke Presiden Prabowo Subianto dan Direktur Utama Perum Bulog. Menurutnya, hanya kedua pihak tersebut yang memiliki kewenangan menyelesaikan persoalan di PG GMM.
“Harapan kami jelas, tuntutan ini sampai ke Dirut Bulog dan Presiden. Selain itu, kami pesimis ada solusi,” tegasnya.
Sunoto mengungkapkan, pihaknya pernah bertemu langsung dengan Dirut Perum Bulog pada 14 Januari 2026. Dalam pertemuan tersebut, Bulog disebut menjanjikan operasional kembali pabrik dengan dukungan mesin baru.
Namun, realisasi janji tersebut hingga kini belum terlihat. Petani pun mempertanyakan keseriusan Bulog, mengingat kejelasan operasional pabrik sangat berdampak pada keberlangsungan usaha mereka.
“Kalau memang siap, segera direalisasikan. Kalau tidak, sebaiknya diserahkan kepada pihak yang lebih mampu,” ujarnya.
Dalam aksi itu, APTRI membawa tiga tuntutan utama. Pertama, mendesak agar PG GMM dapat beroperasi kembali pada 2026. Kedua, meminta adanya perombakan manajemen pabrik. Ketiga, apabila Bulog tidak mampu memenuhi komitmen, mereka mendesak agar pengelolaan pabrik dialihkan ke pihak yang lebih kompeten, seperti PTPN atau Sugar Group Companies (SGN), bahkan membuka opsi penjualan ke swasta.
Sekitar 2.000 peserta aksi turut hadir dalam demonstrasi tersebut. Mereka juga membawa 193 truk dan tiga unit alat berat pengangkut tebu sebagai simbol kekuatan massa.
Sunoto menegaskan, jika tuntutan tidak segera dipenuhi, aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar akan digelar, bahkan berpotensi menuju Jakarta.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Blora, Komang Gede Irawadi, menemui massa mewakili Bupati Blora. Ia memastikan bahwa petisi dan tuntutan petani akan segera diteruskan kepada pihak terkait, termasuk Perum Bulog dan Presiden.
“Dokumen sudah kami terima dan akan segera kami kirimkan. Secara digital sudah lebih dulu disampaikan, tinggal fisiknya saja,” jelas Komang.
Dalam pertemuan tersebut, disepakati batas waktu jawaban dari Bulog hingga Jumat, 10 April 2026. Jika tidak ada respons hingga tenggat waktu tersebut, APTRI mengancam akan menggelar aksi lanjutan dengan skala lebih besar, termasuk kemungkinan bergerak ke ibu kota.
Meski demikian, sebagian massa sempat mendesak agar batas waktu dipercepat menjadi dua hari, karena satu pekan dianggap terlalu lama.
Menutup aksi, Sunoto menyatakan pihaknya juga akan meminta dukungan aparat keamanan untuk mengawal langkah mereka jika harus bergerak ke Jakarta.

