Blora Semakin Kritis, Mengapa Ada yang Risih?

Ada masa ketika sebuah daerah dianggap baik hanya karena sepi kritik. Tak ada suara protes, tak ada pertanyaan, semua terlihat damai. Namun sejarah berkali-kali membuktikan, ketenangan semacam itu belum tentu lahir dari pemerintahan yang bersih. Bisa jadi, ia lahir karena masyarakat sudah lelah berbicara atau takut didengar.

Belakangan, Blora justru ramai. Dokumen publik diminta dibuka. Proyek dipertanyakan. Dugaan penyimpangan anggaran dibahas di ruang publik. Aparat penegak hukum ikut menjadi sorotan. Sebagian orang menganggap kondisi ini memalukan.

Padahal, yang memalukan bukanlah banyaknya pertanyaan. Yang memalukan adalah ketika pertanyaan dijawab dengan kebungkaman.

Keterbukaan tidak boleh berhenti menjadi slogan dalam pidato seremonial. Transparansi baru memiliki makna ketika pemerintah berani membuka data, menjelaskan kebijakan, dan mempertanggungjawabkan penggunaan uang rakyat tanpa harus dipaksa.

Ironisnya, masih ada budaya yang menganggap setiap kritik sebagai serangan terhadap pemerintah. Padahal kritik bukan permusuhan. Kritik adalah mekanisme pengawasan yang dijamin konstitusi. Yang perlu dilawan bukan kritiknya, melainkan jika memang ada penyimpangan di balik kritik tersebut.

Masyarakat hari ini semakin cerdas. Jawaban normatif seperti “semua sudah sesuai prosedur” tidak lagi cukup. Publik ingin melihat dokumen, ingin mengetahui proses, ingin memastikan bahwa setiap rupiah APBD benar-benar kembali kepada rakyat dalam bentuk pelayanan dan pembangunan yang berkualitas.

Kepercayaan publik tidak dibangun melalui baliho, konferensi pers, ataupun pencitraan media sosial. Kepercayaan lahir ketika pemerintah tidak alergi terhadap pertanyaan, dan aparat penegak hukum berani menegakkan hukum tanpa melihat jabatan maupun kedekatan.

Lebih berbahaya lagi apabila kritik mulai dibalas dengan intimidasi, pembungkaman, atau upaya mendiskreditkan pihak yang bertanya. Demokrasi tidak pernah tumbuh di ruang yang penuh ketakutan. Demokrasi tumbuh ketika warga diberi ruang untuk mengawasi dan pemerintah bersedia diawasi.

Blora hari ini sebenarnya sedang menunjukkan gejala yang sehat. Kesadaran masyarakat terhadap hak memperoleh informasi publik meningkat. Partisipasi warga dalam mengawasi penggunaan anggaran juga semakin kuat. Ini bukan ancaman bagi pembangunan, melainkan pagar agar pembangunan tidak keluar dari rel hukum.

Justru pejabat yang yakin bekerja dengan benar tidak memiliki alasan untuk takut membuka data. Sebab keterbukaan adalah perlindungan terbaik bagi pejabat yang bersih, sekaligus ancaman terbesar bagi mereka yang bermain-main dengan uang rakyat.

Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling keras mengkritik. Sejarah mencatat siapa yang berani menjawab dengan fakta, bukan dengan emosi.

Sebab pemerintahan yang kuat bukanlah pemerintahan yang sepi kritik, melainkan pemerintahan yang mampu membuktikan bahwa kritik itu dijawab dengan keterbukaan, integritas, dan tindakan nyata.

(Val)

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!