Eric Vr: Kebenaran Adalah Senjata Utama Wartawan di Era Digital

GARDA BLORA NEWS, JAKARTA – Arus informasi yang bergerak begitu cepat di era digital menghadirkan tantangan besar bagi dunia jurnalistik. Di tengah maraknya hoaks, disinformasi, dan judul sensasional yang hanya mengejar klik, masyarakat membutuhkan media yang mampu menghadirkan informasi akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Praktisi sekaligus pengamat media, Eric Vr, menilai wartawan memiliki tanggung jawab yang semakin besar di tengah derasnya informasi yang beredar di berbagai platform digital. Menurutnya, tugas jurnalis bukan sekadar menjadi pihak pertama yang menyampaikan kabar, tetapi memastikan setiap informasi telah melalui proses verifikasi.

“Menjadi penolong di era digital bukan lagi sekadar menulis penderitaan orang lain untuk memicu simpati. Menolong yang paling autentik saat ini adalah dengan menyajikan kebenaran yang terverifikasi,” ujar Eric Vr saat diwawancarai, Rabu (15/7).

Ia menambahkan, ketika masyarakat kesulitan membedakan antara fakta dan informasi yang dimanipulasi, wartawan harus hadir sebagai sumber informasi yang kredibel.

“Ketika masyarakat kebingungan membedakan fakta dan rekayasa di media sosial, di situlah wartawan hadir sebagai penolong dengan memberikan kepastian informasi yang jernih dan objektif,” katanya.

Eric menegaskan, perkembangan teknologi tidak boleh membuat insan pers mengabaikan prinsip dasar jurnalistik. Menurutnya, tuntutan kecepatan publikasi harus tetap diimbangi dengan ketelitian sebagaimana diamanatkan dalam Kode Etik Jurnalistik, khususnya kewajiban menyajikan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

“Kecepatan tanpa akurasi adalah bencana bagi jurnalisme. Wartawan yang bijaksana tidak akan mengorbankan kebenaran demi menjadi yang pertama mengunggah berita. Lebih baik terlambat beberapa menit tetapi menyajikan kebenaran utuh, daripada cepat namun menyebarkan kepalsuan,” tegasnya.

Eric juga menyoroti fenomena maraknya praktik clickbait yang dinilai telah menggerus kepercayaan masyarakat terhadap media. Menurutnya, orientasi mengejar trafik dan pendapatan iklan tidak boleh mengalahkan tanggung jawab moral seorang jurnalis.

Ia menilai kepercayaan publik hanya dapat dipulihkan apabila pers kembali menjalankan fungsinya sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yakni menyampaikan informasi yang independen, mengawasi jalannya kekuasaan, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Masyarakat akan menyayangi wartawan yang berdiri bersama mereka. Ketika wartawan berani menyuarakan keadilan, membongkar penyalahgunaan kekuasaan, dan membela hak-hak publik dengan cara yang profesional dan santun, di situlah rasa hormat dan cinta dari masyarakat akan kembali tumbuh secara alami,” jelasnya.

Lebih lanjut, Eric menilai wartawan masa kini memang dituntut menguasai teknologi digital dan berbagai platform multimedia. Namun, menurutnya, kemampuan teknis harus selalu berjalan beriringan dengan integritas dan kepatuhan terhadap etika jurnalistik.

Menutup keterangannya, Eric mengingatkan agar insan pers tidak membiarkan algoritma media sosial menentukan arah pemberitaan.

“Teknologi dan algoritma hanyalah alat, mereka tidak punya hati nurani. Wartawan punya. Jangan biarkan algoritma mendikte moralitas pemberitaan kita. Wartawan profesional adalah mereka yang menggunakan teknologi untuk memperluas jangkauan kebenaran, bukan untuk melipatgandakan kesesatan,” pungkasnya.

Ia berharap insan pers tetap menjaga profesionalisme dan integritas di tengah perubahan lanskap media. Dengan berpegang teguh pada etika, jurnalisme diyakini akan tetap menjadi pilar demokrasi sekaligus sumber informasi yang dipercaya masyarakat.

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!