Gus Rozin Memaknai Khidmah NU sebagai Jalan Menjadi Lebih Baik

GARDA BLORA NEWS, JOMBANG — Mengurus Nahdlatul Ulama (NU) bagi KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin bukan semata tentang jabatan dan posisi dalam struktur organisasi. Baginya, berada di lingkungan NU juga menjadi bagian dari proses memperbaiki diri sekaligus memberikan manfaat kepada jamaah dan masyarakat.

Ketua PWNU Jawa Tengah yang menjadi salah satu kandidat Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 itu pernah menyampaikan bahwa NU merupakan organisasi yang baik. Karena itu, orang yang berada di dalamnya harus menjadikan khidmah sebagai jalan untuk terus bertumbuh dalam kebaikan.

“NU ini adalah organisasi yang baik. Justru kitalah yang ingin menjadi baik dengan melalui NU,” kata Gus Rozin.

Pandangan tersebut menempatkan NU bukan hanya sebagai organisasi dengan struktur dan program kerja, tetapi juga sebagai ruang pengabdian. Menjadi pengurus berarti bersedia memberikan waktu, tenaga dan pikiran untuk kepentingan jamaah.

Dari Diri Sendiri kepada Jamaah

Dalam tradisi pesantren, konsep barokah kerap dikaitkan dengan bertambahnya kebaikan. Nilai itu pula yang membuat sebagian kader melihat keterlibatan di NU bukan sekadar urusan posisi, melainkan kesempatan untuk menjaga diri dalam lingkungan yang dekat dengan ulama, ilmu dan tradisi keagamaan.

Namun, proses tersebut tidak berhenti pada pembentukan pribadi.

Ketika seseorang memilih berkhidmah di NU, tanggung jawabnya ikut meluas. Ia dituntut mampu menggerakkan kader, mengembangkan potensi organisasi dan memastikan keberadaan NU memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dari sinilah hubungan antara jamaah dan jam’iyah menjadi penting. Organisasi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh struktur kepengurusan, tetapi juga oleh kualitas serta keterlibatan warga yang berada di dalamnya.

Jamaah yang semakin kuat akan menjadi salah satu fondasi bagi jam’iyah yang semakin kokoh.

Pengalaman Panjang di NU

Pemikiran Gus Rozin mengenai khidmah tersebut berjalan beriringan dengan perjalanan panjangnya di organisasi NU.

Ia pernah menjadi Pengurus Pusat IPNU periode 1998–2001, Pengurus Pusat GP Ansor 2000–2004, Wakil Ketua LP Ma’arif PBNU 2010–2013, Ketua RMI NU Jawa Tengah 2013–2015, serta Ketua RMI PBNU 2015–2021.

Gus Rozin juga pernah dipercaya sebagai Mustasyar PCNU Kabupaten Pati 2019–2024 dan Katib Syuriah PBNU 2021–2023. Sejak 2024, ia mengemban amanah sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah untuk masa khidmah 2024–2029.

Lintasan tersebut mempertemukannya dengan berbagai bidang dalam NU, mulai dari kaderisasi, pesantren, pendidikan hingga kepengurusan di tingkat wilayah dan pusat.

Pengalaman itu menjadi konteks penting dalam melihat gagasannya tentang khidmah. Bagi Gus Rozin, membangun organisasi tidak cukup hanya melalui kebijakan dan program, tetapi juga melalui orang-orang yang bersedia menghidupkan organisasi tersebut.

Menjadi Baik Bersama NU

Menjelang Muktamar ke-35 NU pada 27–31 Agustus 2026, gagasan tersebut menjadi salah satu perspektif dalam melihat kepemimpinan NU.

Khidmah tidak ditempatkan sebagai sekadar aktivitas organisasi, melainkan proses untuk memperbaiki diri sekaligus memperluas manfaat.

Dari pribadi yang terus belajar, lahir jamaah yang semakin kuat. Dari jamaah yang kuat, diharapkan terbentuk jam’iyah yang mampu memberikan manfaat lebih luas.

Dengan cara pandang itu, memimpin NU bukan hanya tentang mengelola struktur dan menjalankan program. Lebih dari itu, kepemimpinan juga menyangkut kesediaan untuk terus mengabdi, mendengar kebutuhan jamaah dan menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.

By admin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!