GARDA BLORA NEWS, BLORA – Pelaksanaan proyek revitalisasi di SMAN 1 Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menjadi perhatian setelah ditemukan masih adanya pekerja yang belum terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan serta belum menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar keselamatan kerja.
Revitalisasi sekolah yang menelan anggaran sekitar Rp2,343 miliar dari APBN melalui Program Revitalisasi SMA Tahun 2026 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut dikerjakan secara swakelola dan melibatkan sekitar 30 tenaga kerja lokal.

Kepala SMAN 1 Randublatung, Harmoko, membenarkan bahwa sebagian pekerja lokal hingga kini belum terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Ia juga mengakui penggunaan APD di lapangan belum berjalan secara maksimal.
“Memang masih ada pekerja lokal yang belum terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Untuk APD juga belum semuanya dipakai. Kemungkinan mereka merasa kurang nyaman atau terganggu saat bekerja sehingga enggan menggunakannya,” ujar Harmoko.
Ia menjelaskan, proyek revitalisasi mulai dikerjakan sejak 22 Juni 2026 dengan target penyelesaian selama 180 hari kalender.
Dana proyek dicairkan dalam dua tahap, yakni 60 persen pada awal pelaksanaan dan sisanya 40 persen setelah progres pekerjaan mencapai minimal 50 persen.
Adapun ruang yang direvitalisasi meliputi pembangunan tiga ruang kelas baru, rehabilitasi tiga ruang kelas, perbaikan satu ruang Laboratorium IPA, rehabilitasi ruang administrasi, serta perbaikan toilet siswa.
Dari hasil pemantauan di lokasi, sejumlah pekerja tampak menjalankan aktivitas pembongkaran maupun pembangunan tanpa mengenakan helm proyek dan perlengkapan keselamatan lainnya yang menjadi bagian dari standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Kondisi tersebut memunculkan perhatian terkait penerapan aspek keselamatan kerja selama proyek berlangsung.

